WP 13 Bila rotan kagak ada (1)

Masih inget kan arti peribahasa “Kalo kagak ada rotan, akar pun jadi”? Kalo lupa, gampang aja, bisa kembali sekolah di SD atawa bisa juga tanya sama paman Google.

Nah kembali ke pokok persoalan. Pada awal tahun 1970an aku  ditempatkan  di sebuah kota kecil di daerah Aceh, di mana perusahaan tempat saya kerja beroperasi. Meskipun demikian, rumah sakitnya memiliki fasilitas yang cukup memadai. Yang kagak ada adalah tenaga dokter ahli. Yang ada cuman ada 2 dokter umum, termasuk saya.

Nah daerah di mana saya ditempatkan merupakan daerah endemis malaria. Kalo kena malaria tropica yang juga disebut malaria falciparum, kemungkinannya bisa mati atawa sembuh. Untung kasusnya jarang. Yang paling sering adalah malaria tertiana, atawa malaria vivax. Dengan pengobatan yang tepat bisa sembuh total, tapi kalo kagak, bisa jadi penyakit yang kronis. Tanda-tandanya adalah bisa  kambuh sendiri dan terjadi pembesaran hati dan limpa.

Nah, pada suatu pagi, dibawalah anak berumur 10 tahunan, anak penduduk kampung di sekitar kompleks perusahaan kami. Keluhannya adalah pingsan setelah jatuh ketika naek sepedah. Kok bisa ya? Jadi aku periksa. Ternyata dinding perutnya tegang, pertanda ada iritasi pada selaput dinding  perut. Pada pemeriksaan lebih lanjut, hati dan limpanya membesar, terutama limpanya. Karena nyerinya pada daerah limpa, maka diagnosa saya adalah bahwa ada cedera robek pada limpa. Mungkin waktu jatuh bagian kiri perutnya tersodok stang sepedah.

Langsung saya suruh cari donor darah dan sekalian pasang infus. Karena penanganannya kudu secara operatif, jadi saya telepon bos besar yang kantornya di daerah Sumatra Utara. Saya ceritakan tentang kasus yang saya hadapi, dan minta izin untuk boleh mengoperasinya.

Sang boss dengan tegas menjawab: “Nehi, nehi, nehi!!!!” Alasannya karena saya bukan ahli bedah dan saya disuruh ngirim itu pasien ke rumah sakit tempat dia berada. Karena boss besar berkata begitu, apa yang saya bisa perbuat, kecuali segera mengirim sang pasien dengan ambulans lengkap dengan infus dan transfusi darah, dikawal oleh perawat yang berpengalaman. Diperkirakan dalam waktu 1½ jam bisa sampe tempat tujuan. Kamar operasi di tempat tujuan juga sudah saya telepon untuk siap siaga.

Sorenya perawat yang mengantar pasien melapor, bahwa 5 menit sebelon sampe tempat tujuan sang pasien meninggal. Alangkah kesalnya saya. Esok paginya aku berangkat nemuin sang boss. Saya utarakan kekesalan saya bahwa sang pasien meninggal gara-gara saya dilarang mengoperasinya. Meliat saya penuh emosi, sang boss yang udah melewati usia pensiun, akhirnya mengizinkan saya mengoperasi pasien-pasien, asal keadaannya memang emergency. Redalah emosi saya, dan dengan mengucapkan terima kasih, saya pulang.

Betul saja, kasus demi kasus berdatangan. Terutama yang memerlukan tindakan sectio caesaria. Agar tidak terus seperti akar, maka saya pelajari buku-buku tentang teknik-teknik operasi. Tidak jarang aku pelajari dulu sebelon mulai suatu operasi. Pernah saya lupa akan tahap berikut yang harus saya lakukan, sehingga saya berenti dulu operasi dan suruh perawat membuka halaman buku yang aku perlukan untuk dapat saya baca. Untung kejadian itu cuman satu kali aja.

Lambat laun sang akar secara de facto bisa menyamain sang rotan, meskipun secara de jure kagak. Yang penting saya bersyukur bahwa saya cukup banyak bisa menyelamatkan nyawa dengan “kenekatan” saya.

Pernah seorang tukang beca Medan membawa anak perempuannya berusia sekitar 10 taun. Si anak ini beberapa taun sebelonnya tertabrak kendaraan dan tulang pahanya patah. Karena kagak punya duit, si anak dibawa ke dukun patah tulang. Memang tulangnya akhirnya nyambung, tapi nyambungnya sedemikian rupa hingga tulangnya  berbentuk huruf Y. Tentu saja ini menyebabkan tungkainya pendek sebelah.

Karena ini bukan kasus emergency, maka semula saya tolak dan suruh ayahnya membawa sang anak ke dokter bedah di Medan. Dengan memelas sang ayah berkata bahwa untuk itu dia nang hadong hepeng, alias kagak punya duit, sedang dia denger bahwa di sini ada dokter yang mau mengoperasi tanpa dibayar.

Jadi saya berfikir. Kalo kondisi anak ini dibiarkan, maka bentuk  tulang pinggulnya bisa terganggu hingga dia akan kesulitan ketika suatu waktu ia melahirkan. Itu pun kalo ada pria yang tertarik untuk menikahinya. Berdasarkan pertimbangan ini, akhirnya saya putuskan untuk mengoperasinya.

Setelah sembuh, saking girangnya si anak menari di depan saya, dengan tumpuan tungkai yang saya operasi. Saya pun dalam hati mengucapkan “Alhamdulillah” karena tanpa bantuanNya operasi saya kagak akan berhasil.

Sekedar untuk memberi ilustrasi tentang suasana di kamar operasi, berikut ada salah satu fotonya.

My beautiful picture

Ada yang tau saya yang mana?

14 thoughts on “WP 13 Bila rotan kagak ada (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s