WP 14 Bila rotan kagak ada (2)

Cerita ini terjadi pada awal taun 1980. Jadi sebetulnya waktu itu sang akar udah ampir menyerupai sang rotan.

Pada waktu itu saya ditempatkan di daerah Riau Daratan. Berbeda dengan yang di Aceh dan di Sumatra Utara, yang ada di sini cuman poliklinik doang, karena rumah sakit masih dalam tahap pembangunan. Keadaan seperti ini bikin saya stress berat, karena kalo ada kasus emergency, kudu dikirim ke ibukota propinsi yang lewat jalan darat paling cepat bisa dicapai dalam waktu 2 jam. Jadi kalo ngirim pasien gawat darurat dengan cara ini, satu-satunya yang bisa saya perbuat cuman berdoa doang.

Tapi ketika rumah sakit siap untuk ditempatin, saya dibikin lebih pusing lagi. Soalnya terasa ada keengganan para anak buah untuk menempati rumah sakit baru itu.

Selidik punya selidik, rupanya mereka ngeri, karena rupanya di bagian belakang rumah sakit terdapat bekas makam. Jadi aku bikin selametan aja yang dilakukan oleh 3  kelompok bersamaan, yaitu kelompok Islam, kelompok Kristen dan kelompok Hindu Bali, sesuai dengan agama yang dianut para perawat. Setelah itu ditutup dengan makan malam bersama. Selesailah persoalannya, dan mulailah beroperasi itu rumah sakit.

Saking bersihnya itu rumah sakit dan bagusnya tamannya, maka pada hari-hari libur rumah sakit dijadikan tempat rekreasi. Buat saya sih gak masalah, asal ketenangan dan kebersihan tetep terjaga.

Selama itu saya bikin latihan-latihan cara menyiapkan operasi, supaya bila diperlukan, semua personil udah siap.

Nah, pada suatu pagi datanglah pasien yang mengalami kesulitan sewaktu akan melahirkan. Jadi satu-satunya jalan keluar adalah secto caesaria, yang bagi saya kagak asing lagi.

Begitu pasien sudah siap untuk dioperasi, masuklah perawat dengan membawa instrumen buat operasi. Entah karena gugup, berjatuhanlah alat-alat yang udah steril tersebut. Ketika dia mau memungutnya, aku larang dan aku suruh dia bawa satu set yang laen. Alhamdulillah, operasi perdana di kota itu berjalan dengan lancar.

Begitu selesai operasi saya keluar kamar operasi. Alangkah kagetnya saya, karena lorong penuh sesak dengan keluarga dan kerabat sang pasien. Begita liat saya keluar, semua orang bertepuk tangan karena gembira. Suatu pujian yang sangat luar biasa, yang belon tentu ahli bedah terkenal mendapatkannya.

Berbeda dengan yang di Aceh dan Sumatra Utara, maka pakaian operasi di sini berwarna hijau. Entah kenapa. Mungkin yang pesan berpikir bahwa yang warna putih cepet kotor dibanding yang warna ijo. Mau ganti, lha wong udah dibeli segudang penuh.  Liat aja gambar di bawah ini. Daripada anda nerka-nerka, saya adalah yang make masker putih.

Image

11 thoughts on “WP 14 Bila rotan kagak ada (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s