WP 16 Cara saya ngadepin boss yang nyebelin (2)

Kejadiannya waktu saya bertugas di Riau Daratan. Di sana boss langsung saya adalah seorang SH. Gak tau apakah itu singkatan dari Sarjana Hukum atawa Susah Hidup. Yang jelas dia selalu berusaha bikin bawahannya susah hidup. Di atasnya dia ada seorang insinyur yang sangat baek hati. Kita sebut saja dia sebagai sang super boss.

Nah pada suatu siang sang super boss ngumpulin semua pimpinan. Dalam salah satu arahannya dia bilang: “Se-buyan-buyannya (buyan = istilah Palembang buat bego) seorang karyawan, kalo dia berkonduite C selama 5 taun, dia patut dipertimbangkan buat naek golongan.”

Jadi waktu makan siang, saya hampiri dia dan sambil mengulurkan tangan saya berkata: “Kenalkan sama super buyan. Udah lebih dari 5 taun berkonduite B, tapi kagak naek-naek golongan!” Dia cuman liatin saya sambil bengong doang. Tapi diem-diem dia ambil tindakan. Menurut Kepala Personalia, dia manggil boss saya dan memerintahkan dia untuk mengusulkan kenaekan golongan saya. Tentu saja boss langsung saya berkeberatan, karena kalo itu terlaksana, golongan saya sama golongan dia bakal sama. Tapi perintah adalah perintah. Dan naeklah golongan saya.

Tapi rupanya dendam membara di hati sang boss. Begitu ada penilaian tahunan, dia panggil saya dan berkata: “Dok, kalo dulu mudah dapat konduite B, sekarang rasanya susah!” Jadi dengan terheran-heran aku bertanya: “Emangnya ada apa masalahnya?” Dengan tenang dia jawab: “Soalnya untuk golongan dokter sekarang, formulirnya laen!’

“Oh, begitukah?” aku jawab. “Emangnya sejak kapan ada peraturan perusahaan bahwa seseorang dinilai berdasarkan bentuk formulir? Bukannya berdasarkan pelaksanaan tugasnya? Dulu jabatan saya Kepala Kesehatan, sekarang masih juga Kepala Kesehatan. Jadi kalo konduite saya turun, berarti kinerja saya turun. Sebutkan saja mana yang turun.  Buat saya gak ada masalah. Kan di bawah ada kolom buat saya kasi komentar!”

Terdiamlah dia. Dan sambil berpikir keras dia mulai ngisi penilaian atas hasil kerja saya ke dalam formulir. Setelah itu dia sodorkan ke saya untuk ditandatangani.

Dengan cepat saya baca hasil pernilaian dia. Ternyata ada beberapa C, banyak B dan satu A. Namun saya sodorkan kembali ke dia dan berkata bahwa saya belon bisa menandatanganinya. Terheran-heran dia bertanya: “Lho kenapa?” Dengan tenang saya jawab: “Soalnya penilaiannya belon lengkap. Belon ada hasil akhirnya.”

Dengan sedikit cemberut dia ambil bolpennya dan menulis nilai  B sebagai hasil akhir. Meliat itu baru saya tandatangani sebagai tanda setuju.

Emangnya aku bloon? Kalo dia nulis C sebagai hasil akhirnya kan aku rugi. Pasti kenaekan gaji berkala kagak setinggi kalo dapat B sebagai hasil akhir.

5 thoughts on “WP 16 Cara saya ngadepin boss yang nyebelin (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s