WP 26 – Lupis, jajanan pasar yang abadi

Karena saya masih punya 1 liter beras ketan yang bila disimpan terlalu lama bisa jadi santapan kutu beras, tadi pagi saya putuskan untuk membuat lupis. Berbeda dengan jajanan lain, lupis tidak pernah dijajakan di resepsi, tapi yang dijual di pasar  tetap aja laris.

Bentuk lupis dapat berrupa lontong yang kemudian diiris-iris atau berbentuk segitiga. Saya lebih suka bentuk  yang terakhir, meski bikinnya rada ribet.

Mula-mula beras ketan saya cuci dan rendam barang satu jam. Kemudian saya siapkan daun pisang batu yang sudah dipanaskan supaya layu. Untuk bikin kue, daun pisang batu yang paling cocok, karena cukup kuat dan memberi aroma yang khas pada kue. Meskipun demikian sebaiknya dibikin layu supaya gak mudah sobek.

Daun pisang sepanjang 15 cm saya bikin kerucut dan isi dengan 3 sendok makan beras ketan tadi. Biasanya sih cukup 2 sendok makan saja, tapi karena ada satu liter, kapan selesainya?

Setelah itu  bagian atas kerucut saya lipat supaya tertutup rapat dan ikat dengan kulit batang tengah daun pisang, yang sengaja saya iris supaya bisa dijadikan tali-tali pengikat. Sebetulnuya bisa saja dirapatkan dengan menyematkan biting, tapi kemungkinan daunnya sobek sewaktu direbus lebih besar.

1

Inilah hasilnya. Usahakan agar ikatannya cukup kencang dan tidak mudah lepas

2

Karena sisa beras terakhir ada sekitar 4 sdm lebih, dan daun tinggal untuk satu lupis, maka lupis terakhir berukuran maxi. He he he!

3

Setelah semua terbungkus, maka  saya masukkan ke dalam presto cooker. setelah diisi air supaya semua terendam, saya tambahkan 2 sdt garam dan beberapa lembar daun pandan. Garam dan daun pandan cuman untuk menambah cita rasa doang. Kagak pake juga gak apa-apa.

4

Panaskan sampai airnya mendidih  yang ditandai dengan bunyi mendesis. Setelah mendidih sekitar 20 menit, matikan api dan biarkan jadi dingin sebelon presto cooker dibuka. Sebagian hasilnya adalah serperti yang tampak pada gambar di bawah.

5

Siapkan kelapa parut yang sudah diberi garam dan dikukus serta gula jawa yang direbus dengan sedikit air dan beberapa lembar daun pandan.

Sebaiknya pilih kelapa yang tidak tua, supaya terasa lunak di mulut. Kenapa kelapa harus dikukus dulu? Jawabannya gampang. Supaya kuman-kuman yang ada di dalamnya mati, sehingga kelapa tidak cepat jadi basi. Abis itu taburkan kelapa parut di atas lupis yang sudah dikupas dan tuangkan larutan gula jawa di atasnya. Kini lupis siap untuk disantap

6

Karena ukuran lupis yang kali ini saya bikin cukup besar, maka yang jadi model di sini, cukup satu saja.

Mira (anak saya yang paling tua) saya beri 10 potong, tapi dalam sekejap habis disantap bersama keluarganya. Aggy (anak saya yang kedua)  kagak kebagian, karena dia dan keluarganya lagi berweek-end di Puncak. Mudah-mudahan Aria (anak saya yang paling kecil) yang besok bersama keluargana mau datang masih kebagian.

Yang jelas, para pembaca cuman kebagian menonton fotonya doang. Kalo mau, silahkan bikin. Petunjuknya kan udah cukup jelas.

17 thoughts on “WP 26 – Lupis, jajanan pasar yang abadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s