WP 130 Jalan-jalan gaya raja, dengan duit seadanya 2 dari 4

Keesokan harinya (17 September 2013) setelah sholat berjamaah, sebagian ikut senam taichi.

Abis mandi dan dandan kami sarapan di hotel. Meski kamera yang saya bawa berukuran mini, tetep aja tampak, sehingga selalu aja ada yang minta untuk dipotret. Kalo jaman dulu sih kudu milih-milih, takut filmnya keburu abis. Tapi di jaman kamera digital, kagak masalah.

Image

Setelah semu siap, kami berangkat ke kraton Sunan Pakubuwono. Meski rencana kedatangan kami sudah lama disetujui, namun karena belon lama sebelonnya terjadi konflik intern, maka kami kudu nunggu cukup lama di luar.

Pintu biru yang tampak pada foto berikut, merupakan pintu baru pengganti pintu lama yang sempat ancur gara-gara dijebol dengan Toyota Landcruiser oleh pihak keluarga yang ketika terjadi sengketa kagak diizinkan masuk.

 Image

Sayang bahwa kami tidak diizinkan masuk ke dalam kraton. Jadi harus cukup puas dengan jalan-jalan di halaman dalam yang luas sekali.

Image

Museum kraton tampak kurang dirawat, sehingga saya jadi malas motretin.

Selesai dari kraton Pakubuwono, kami menuju kraton Mangkunegara. Di sana kami disambut dengan tarian Buto Cakil lawan Arjuna, sambil nikmati snack.

Berbeda dengan kraton sebelonnya, kraton ini tampak bersih cemerlang seperti baru dicuci dengan sabun Rinso. Demikian juga dengan museumnya yang memamerkan artefact yang sangat menarik.

Abis itu kami dipersilahkan santap siang. Baru di sana saya rasakan betapa nikmatnya masakan orang Solo. Beda dengan masakan orang Jogja yang sate kambingnya rasanya keras kayak kayu. Maaf, ini bukan ngehina lho. Memang faktanya demikian. Yang enak cuman gudegnya Yu Djum dan bebek goreng di restoran antara setasiun dan Jl. Malioboro.

Melihat makanan yang nikmat, saya sempat ngiler juga. Tapi untung rasio saya masih jalan. Jadi saya cuman ambil nasi disiram dengan tengkleng. Abis itu aku ambil pecel dan ditutup dengan sebatang pisang. Mau nambah lagi, kasian sama badan yang udah tua ini. Bahwa yang laen makannya berpiring-piring sebodo amat.

Image

 

Image

16 thoughts on “WP 130 Jalan-jalan gaya raja, dengan duit seadanya 2 dari 4

  1. kebalikan dengan mbak Ine, Saya bukan asli solo tapi menetap di sini sejak jaman gadis ting2ting di OSPEK sampe sekarang ikut suami orang solo.

    Bagaimana rasa tengkleng Solo, pak?
    saya doyan banget tengkleng😀
    ada yg dibungkus daun pisang itu isinya otak kambing, enaaaakkkk…
    kalau pas ada acara family gathering di kantor pusat biasanya selalu ada menu tengkleng.

    11 tahun di solo saya belum pernah sekalipun main ke keraton Solo. sekadar lewat saja sering. hehehe…
    btw, Ibu mampir mborong batik di Pasar Klewer atau PGA tidak, pak?

    Reply
  2. saya asli solo pak, dulu sering ke keraton kasunanan, baik ke museum, atau melihat pagelaran. Sudah 20 tahun lebih tidak ke sana, sedih dengan adanya konflik internal, makin sedih dengan info pak Amir bahwa museumnya tidak terawat.
    itu warna seragamnya, ijo tosca, bagus dan senada dengan warna pintu keraton.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s