WP 170 Para Penggemar Kue Saya

Hasrat untuk jualan kue bikinan sendiri tampaknya gak bakalan bisa terwujud. Soalnya di sekitar rumah banyak penggemar yang suka nyomotin tanpa bayar. Mau dilarang? Ya gak mungkinlah. Soalnya mereka cucu-cucu saya sendiri!

Kalo di rumah gak ada kue, mereka suka celingukan, cari sini, cari sono.

Begitu aku siap-siap bikin kue, Ale menghampiri dan tanya: “Mau bikin kue Kung?”

Rupanya itulah saat-saat yang dia nantikan. Liat aja betapa cermatnya dia perhatikan cara say bikin adonan kaasstengels.

Dengan sabar dia tunggu sampe semua adonan dicetak dan dipanggang.

Begitu matang, dia rada kecewa karena kudu nunggu kuenya dingin. Tapi gitu dingin, dengan riang gembira dia mencicipi, mencicipi dan lagi-lagi mencicipi tanpa henti-henti.

Demikian pula dengan Safin, sang cucu terkecil. Begitu ambil, seluruh kue dia masukin ke mulutnya, sehingga tangannya kosong untuk ambil lagi.

Begitu Ifa pulang sekolah, dia langsung mandi. Abis itu dengan santai dia ngikutin adiknya dengan mencicipi, mencicipi dan lagi-lagi mencicipi.

Untung waktu itu Mazaya dan Mudhya, anak-anaknya Mira kagak datang. Kalo datang pasti gigit jari karena gak ada kue yang tersisa.

Kalo Nayla, anaknya Aria, karena tinggalnya di Bintaro, jadwal kedatangannya selalu diberi tau sebelonnya. Jadi aku tinggal bikin kue kesukaannya yaitu kue mangkok atawa soes.Kalo cucu lebih dari enam, pasti tambah sibuk. Tapi pasti lebih asyik.

3 thoughts on “WP 170 Para Penggemar Kue Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s