WP 175 Pelajar Ideal (1)

Atas permintaan seorang pembaca, saya diminta me-repost tulisan saya yang berjudul “Pelajar Ideal” yang pernah saya muat di Multiply.

Setelah aku teliti, rupanya ada 7 episode.

Buat mantan pengguna Multiply yang pernah baca, mending lewatin aja. Soalnya gak ada tambahan yang baru.

Ini ceritanya:

Jaman sekarang tidak jarang kita temui anak SMA yang bermasalah.

Jadi bila sewaktu saya di SMA, bila dibandingkan dengan pelajar SMA masa kini, pasti saya tergolong pelajar yang ideal.

Betapa tidak? Coba saja liat:

  1. Tidak pernah bolos sekolah.
  2. Selalu membuat PR jauh sebelum disuruh (kecuali untuk ilmu kimia, yang pada waktu itu merupakan ilmu yang misterius bagi saya).
  3. Tidak pernah tawuran.
  4. Tidak pernah memalak sesama pelajar.
  5. Dan yang terpenting: tidak kenal narkoba!

Betul kan bahwa saya waktu itu merupakan pelajar yang ideal?

Tapi kadang-kadang ada pengecualiannya juga, tapi ini bila betul-betul kepepet.

Gini ceritanya:

Pada suatu hari, kami berlima menuju ke kolam renang Cihampelas (waktu itu namanya masih Tjihampelas) untuk mengikuti pelajaran renang. Kaga tau kenapa, pelajaran renang jatuhnya pada 2 jam pelajaran terakhir.

Begitu melewati rumah sakit Boromeus, indera penciuman kami tertarik oleh aroma sate kambing.

Kontan saja salah seorang teman saya datang dengan ide yang cemerlang. “Gimana kalo kita kaga usah berenang? Kita makan sate aja yuk!” Ajakan kawan itu disambut dengan aklamasi.

Nongkronglah kami berlima menikmati 10 tusuk sate kambing, secentong nasi dan segelas teh manis yang hangat! Alangkah nikmatnya! (Pasti pembaca juga keluar air liurnya!).

Satu porsi waktu itu harganya 50 sen, yang bagi mereka yang tidak tau, itu sama dengan setengah rupiah. Pas persis dengan harga karcis masuk untuk berenang.

Begitu kami mau bergegas pulang, terdengarlah suara scooter Vespa. Di daerah Jl. Dago, yang mengendarai Vespa cuma satu orang. Yaitu pak The Joe Twan, kepala sekolah kami. Celaka duabelas! Pak The orangnya rada galak dan jarang tersenyum.

“Kalian kan harusnya berenang!” hardiknya. “Hayo, semua ke Champelas!”

Tanpa bisa “defend ourselves” maka digiringnya kami ke arah kolam renang. Kami di depan dan dia di belakang, naik scooternya. Persis kaya kambing lagi digiring penggembalanya.

Salah seorang kawan berbisik: “Duit gue udah abis. Ada yang punya duit kaga?” sebagai jawaban, semua menggelengkan kepala, termasuk saya.

“Waduh, gimana dong?”

“Udah, tenang aja! Ikutin gua aja!” jawabku, karena pas memperoleh ide yang juga kaga kalah cemerlang.

Sesampainya di Cihampelas, sewaktu pak The memarkir scooternya, ku giring kawan-kawan ku memasuki kolam renang yang letaknya di bawah.

“Karcisnya mana?” tanya si penjaga. “Pak The yang nanti bayar!”, jawabku meyakinkan.

Berenanglah kami, sesuai instruksi bapak kepala sekolah.

Apa dia sempat membayar karcis renang buat kami? Meneketehe!

Yang jelas, selama sebulan lebih, bila kami akan berpapasan dengan pak The, selalu kami cari jalan lain.

Nah begitulah kisah tentang seorang pelajar yang ideal.

Sebetulnya masih banyak cerita lagi, tapi aku takut menguploadnya. Kecuali bila ada yang betul-betul minta.

Soalnya bukan kenapa-napa. Ceritanya sedikit lebih sadis, meski tak sesadis pelajar yang tawuran atau yang suka memalak pelajar lain!

8 thoughts on “WP 175 Pelajar Ideal (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s