WP 176 Pelajar Ideal (2)

Peristiwa ini terjadi sewaktu saya duduk di kelas 3 SMP.

Waktu itu ada seorang guru yang namanya S (singkatan untuk Su…. etc) yang selain mengajar Bahasa Indonesia, juga mengajar Sejarah dan Aljabar. Dari awalan Su pembaca dapat menerka bahwa dia berasal dari suku Jawa. Meskipun demikian, sehari-hari dia selalu menggunakan Bahasa Indonesia saja. Tidak pernah dia menggunakan bahasa daerah satu patah kata pun, meski dengan guru-guru sesama suku.

Hari itu pas jadwal dia mengajar ilmu aljabar. Sewaktu dia menjelaskan soal-soal dalam PR, saya membahas soal-soal baru dengan teman sebangku saya yang bernama Arjono (baca: Aryono) Kamarga.

Tiba-tiba dia teriak: “Margono! Ngobrol saja kamu!” Saya tak mengerti kenapa saya sendiri yang diteriakin, padahal Arjono juga ikut ngobrol. Apa mungkin karena dia anak orang kaya? ‘Ga taulah aku.

Tapi yang jelas, rupanya pa guru sedang ada masalah dalam memecahkan soal yang sedang dia coba terangkan.

Tidak berhenti dengan teriakan itu saja, sang guru melanjutkan: “Setan geulueh! Mending kamu bisa bikin soal ini. Coba bapak lihat!” katanya sambil menghampiri saya yang duduk di bangku paling belakang.

Buat yang kaga ngerti bahasa Sunda, “geuleuh” artinya “jijik” atau “menjijikkan”. Saya tidak tau pak guru sedang kerasukan jin apa, kok ujug-ujug dia pergunakan perkataan dalam bahasa Sunda. Yang pasti bukan kerasukan “setan geuleuh”. Soalnya kalau dia kerasukan saya, pasti dia akan mudah memecahkan soal aljabar itu.

Begitu pak S melihat isi buku tulis saya, dia berkata bagaikan pahlawan yang baru menang perang: “Itu kan! Sudah tidak becus bikin soal, masih ngobrol melulu!”

“Tunggu pak, itu kan jawaban untuk soal paragrap 10. Yang bapak permasalahkan kan soal di paragraf 8? Nah ini dia!” jawabku sambil nyengir kuda.

Tanpa melihat ke buku catatan saya lagi, dia berkata: “Coba kamu jelaskan kepada kawan-kawan kamu di papan tulis.”

Dengan tenang aku menuju ke papan tulis.

Hanya dengan menulis jawaban sebanyak 4 baris, selesailah sudah tugas saya. Luar kepala lagi!

 

Setelah melihat tulisan saya, dengan nada sinis pak S berkata: “Betul sih betul! Tapi terlalu singkat. Mana kawan-kawan mu bisa mengerti? Biar bapak yang jelaskan dengan baik!”

“Ya silahkan pak”, jawab ku dengan sabar sambil ambil ancang-ancang mau menghapus tulisan saya.

“Eh, jangan dihapus!” teriaknya. “Biar kawan-kawan mu bisa membandingkannya!”

“Bilang saja mau nyontek” kata ku dengan volume suara yang diperkecil, sehingga cuman pak S yang dapat mendengarkannya. Langsung saya kembali ke bangku saya, dan melanjutkan diskusi saya sama Arjono.

Kali ini tidak ada “setan geuleuh” lagi yang meloncat dari mulut pak guru.

8 thoughts on “WP 176 Pelajar Ideal (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s