WP 178 Pelajar Ideal (4)

Apa lagi yang mau diceritain kalo bukan keusilan si pelajar ideal?

Ketika itu aku sudah duduk di SMA. Entah kenapa, kebanyakan guru di sana adalah mahasiswa-mahasiswa THS (Technische Hoge School) yang kini sudah bermetamorfosa jadi ITB. Apa mungkin karena lebih murah daripada guru profesional? Entahlah! Kebanyakan mahasiswa yang jadi guru pinter-pinter, tapi hanya satu dua orang saja yang memahami ilmu pedagogi.

Nah yang akan saya ceritakan di sini adalah guru yang sangat pandai, tetapi sedikitpun tak mengerti soal ilmu pendidikan. Dia juga mahasiswa THS, yang mengajar mata pelajaran Ilmu Alam.

Namanya W. Perawakannya kecil, pakai kacamata kecil berbentuk segi empat memanjang. Sisiran rambutnya selalu rapih. Dia mengendarai “sepeda kumbang” atau dalam bahasa Belandanya “brom fiets”, bermerk Victoria. Kenapa disebut sepeda kumbang dan bukan sepeda motor? Soalnya mirip sepeda yang diberi motor kecil, sehingga bunyinya mendengung atau “brommen” seperti kumbang.

Sebetulnya saya mau tampilkan gambar itu sepeda kumbang, tapi cari-cari di internet cuman ada gambar sepeda motor dan scooter Victoria. Mungkin karena pada tahun 50an produksi sepeda kumbang hanya sedikit dan untuk konsumsi Indonesia doang. ‘Ga taulah!

Kembali ke pak W.

Kalo dia ngajar, dia anggap semua murid bisa langsung jadi pandai seperti dia. Pada suatu hari, ada materi yang saya kurang mengerti. Jadi sebagai murid ideal aku tanyakan pada pak W.

Eh, bukannya dijelaskan, malah dia ngatain saya sebagai murid goblok, karena kaga bisa ngerti, sedangkan murid-murid lain tidak ada yang menanyakan. Dalam hati saya berkata: “Murid-murid lain juga kaga ngerti, cuman kaga ada yang berani nanyain aja.”

Jadi aku diam saja hanya berkata kepada sang guru: “Yah, kalo bapak kaga mau jelasin ya ‘ga apa-apa, nanti saya cari di buku!” Mendengar itu, kontan sang guru nyap-nyap: “Kalo waktu saya ngajar ada yang tidak dimengerti langsung tanya! Jangan melongo melulu!”

Daripada meneruskan argumentasi yang pasti buntu, mendingan cari cara lain, supaya dia insyaf.

Nah, kesempatan untuk itu datang beberapa hari kemudian.

Setelah pak W. ngajar di kelas kami, dia pindah ngajar di kelas sebelah. Karena kebetulan guru bahasa Indonesia yang seharusnya mengisi 2 jam pelajaran selanjutnya tak masuk, maka kelas kami diliburkan selama 2 jam pelajaran.

Begitu melihat sepeda kumbang Victoria milik pak W., timbullah suatu ide agar dia bisa memperbaiki sikapnya. Begitu tak ada yang melihat, langsung ku laksanakan rencana ku. Waktu pelaksanaannya kurang dari satu menit. Mau tahu apa yang saya lakukan? Sabar dulu ah! Entar juga anda tau!

Begitu selesai mengajar, pak W. langsung naik di atas sepeda kumbangnya yang masih berdiri di atas standardnya. Langsung pak W. menggenjot pedalnya untuk menyalakan mesinnya. Tapi sampai keringatnya bercucuran, si mesin tidak juga mau menyuarakan bunyi kumbangnya.

Terheran-heran dia periksa sepeda kumbangnya, tapi tak bisa menemukan permasalahannya. Pada saat itulah saya menghampiri dia dan bertanya: “Kenapa pak?”

“Gak tau tuh. Dari setadi ‘ga mau nyala!” jawabnya kesal.

“Sebaiknya bapak masuk ruang guru saja dan beristirahat sebentar. Kan bapak sudah keringatan? Nanti saya coba cari masalahnya!”

“Apa kamu bisa?” tanyanya tak percaya. “Udahlah, bapak istirahat dulu!” jawab ku meyakinkan. Meski tampaknya dia kurang percaya, dia ikuti juga saran saya.

Begitu semua aman, aku tutup keran bensinnya dan mulai menggenjot pedalnya. Maksudnya untuk mengeringkan silindernya dari bensin yang meluap di dalamnya. Selanjutnya saya buka tutup businya, dan ku keluarkan secuil kertas yang sebelumnya ku selipkan di dalamnya.

Kemudian ku buka keran bensin dan mulai menggenjot lagi. Baru digenjot seputaran saja, si kumbang sudah menderu.

Ku masuki ruang guru dan berkata pada pak W.: “Silahkan pakai pak! Sudah nyala!”

“Masalahnya apa?” tanyanya terheran-heran. “Tutup businya longgar pak!”, jawab ku membohong. “Kok kamu bisa tau?” tanyanya tambah terheran-heran.

“Ya dari pelajaran ilmu alam. Kan bapak guru yang terbaik?” jawab ku memuji.

Hasilnya? Tak pelak lagi! Sikapnya berubah menjadi sangat baik! Pertanyaan sebodoh apapun, dia jawab dengan sabar! Banyak yang bertanya-tanya kenapa sikapnya bisa berubah 180 derajat. Tapi tak seorang pun pernah tau rahasianya, kecuali saya (tentunya)!

Tidak percumah kan keusilan saya?

4 thoughts on “WP 178 Pelajar Ideal (4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s