WP 179 Pelajar Ideal (5)

Sebetulnya saya ragu-ragu untuk mengupload blog ini, soalnya isinya mengandung unsur “balas dendam” si pelajar ideal. Balas dendam terhadap siapa? Waduh, sasarannya justru seorang guru! Kurang ajar ya? Tapi ini bukan guru sembarangan, melainkan guru yang menyebalkan!

Mau dengar ceritanya? Nah inilah dia!

Masih juga di SMA tempat saya bersekolah. Waktu itu kami juga mendapat mata pelajaran olahraga. Gurunya sangat menguasai teori hampir semua cabang olahraga. Anehnya, sekali pun saya tidak pernah melihat dia memperagakannya. Yang dia lakukan cuma memberi instruksi doang. So far so good! Itu tak jadi masalah.

Yang jadi masalah bagi saya dan teman-teman saya senasib yang tidak dianugerahkan fisik yang memadai, adalah bahwa dia sangat diskriminatif terhadap “cacing cau” seperti kami.

Apa itu cacing cau? Mari saya jelaskan agar anda tidak mati mendadak karena penasaran! Cacing cau adalah istilah Sundanya untuk cacing pisang. Nah anda tau aja bagaimana fisik cacing pisang. Untuk bergerakpun kurang ada tenaga.

Kebetulan saya termasuk kelompok cacing cau yang untuk mata pelajaran olahraga paling banter dapat angka 6, apapun upaya saya!

Entah kenapa, saya jadi lupa siapa nama guru olahraga tadi. Oleh karena itu, saya sebut saja Mr. X.

Mr. X. sebetulnya tidak mempunyai perawakan yang atletis. Kostumnya selalu sama. Celana pendek berwarna biru, kemeja putih berlengan pendek yang selalu dikanji sebelum diseterika, sepatu kulit berwarna hitam dengan kaos kaki panjang berwarna putih dan kacamata dengan frame yang tebal. Sebuah peluit metal selalu tergantung di lehernya. Nah, sekarang anda dapat membayangkan penampilan Mr. X. itu. Bila belum, alangkah baiknya bila anda menemui seorang psikolog untuk test IQ.

Bahwa Mr. X. selalu mendiskriminasikan para cacing cau, dapat dijelaskan dengan peristiwa berikut. Pada pelajaran sepak bola, saya mendapat kesempatan yang jarang sekali terjadi. Aku berhasil merebut bola dan mulai menggiringnya ke gol lawan. Tiba-tiba lawan saya yang bernama Frans menjegal kaki saya. Pada kecepatan yang cukup tinggi, tidak mengherankan bila saya terguling-guling sejauh 5 meter. Ini tepat terjadi di hadapan Mr. X. Herannya dia tidak meniup peluitnya, malah seolah-olah memandang ke arah lain! Mungkin karena si Frans selalu mendapat angka 9 untuk olahraga, sedangkan saya cuman cacing cau belaka.

Jadi salah kah aku bila merasa kecewa terhadap perilaku Mr. X.? Memang menjadi sifat manusia, bahwa rasa kekecewaan bisa memuncak menjadi keinginan untuk balas dendam. Tak terkecuali bagi seorang pelajar ideal, yang hanya seorang anak manusia biasa!

Kejadian yang menyebabkan keinginan saya untuk membalas dendam menjadi memuncak, adalah kejadian berikut.

Pada suatu hari pada pelajaran berenang (di mana lagi kalo bukan di kolam renang Cihampelas!), para murid laki-laki digiringnya ke papan loncat. Satu per satu kami disuruhnya meloncat. Karena itu pengalaman saya untuk pertama kalinya, saya jadi agak ragu-ragu untuk meloncat. Mungkin karena tak sabar, Mr. X. kontan mendorong saya. Tak ayal lagi. Saya menghantam permukaan air secara horizontal, sehingga perut saya berwarna merah! Alangkah sakitnya! Tapi saya diam saja, karena rencana balas dendam sudah terbayang. Kata orang, seekor cacing pun akan berontak apabila diganggu. Apalagi seorang pelajar ideal. Iya kan?

Pada pelajaran renang berikutnya, tampak ada kesempatan baik untuk balas dendam. Semua murid laki-laki disuruhnya berenang sendiri di bagian kolam yang dalam. Dia sendiri berdiri di tepi bagian kolam yang cetek, sambil memberi perintah kepada murid-murid perempuan bagaimana berenang dengan gaya dada.

Saya tidak sia-siakan kesempatan emas ini. Segera saya kumpulkan kawan-kawan saya dan saya bisikkan agar kami keluar kolam dan saling kejar-kejaran. Apa yang kemudian akan terjadi, tidak boleh ada yang menceritakan. Tetap menjadi rahasia sampai kapan pun! Mereka semua setuju, karena kebetulan si Frans sedang absen karena sakit.

Begitu melihat kami saling kejar-kejaran, Mr. X. meniupkan peluitnya sambil menunjuk ke dalam kolam, pertanda kami harus kembali berenang. Berceburanlah kami ke dalam kolam! Itulah kesempatan saya untuk mendorong Mr. X. untuk ikut mencebur ke dalam kolam. Untunglah bahwa Mr. X. tidak dapat melihat siapa yang mendorongnya, karena ketika dia berusaha menjaga keseimbangan, kacamatanya terlontar. Agar dia tidak curiga sama saya, saya menyelam menyelamatkan kacamatanya dan menyerahkan kepadanya. Dengan bantuan saya, Mr. X. keluar kolam dan setelah meniup peluitnya, dia suruh kami meneruskan berenang, karena dia segera akan pulang. Pikir-pikir, kasian juga Mr. X. harus pulang dengan baju basah kuyup! Tapi waktu itu mana aku pikirin?

Setelah peristiwa itu, kami tak pernah lagi mendapat pelajaran olahraga dari Mr. X. Bukan karena dia mengundurkan diri sebagai guru, atau lebih parah lagi, bukan karena dia mati karena kejebur kolam. Tidak! Sekali lagi tidak!

Tapi karena kami harus mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir, di mana olahraga tidak termasuk mata pelajaran yang diuji!

Mungkin ini merupakan episode terakhir mengenai “Pelajar Ideal”. Tapi bila ada lagi peristiwa yang berkaitan dengan itu terlintas di memori saya, apa saya masih boleh meng-uploadnya?

7 thoughts on “WP 179 Pelajar Ideal (5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s