WP 180 Pelajar Ideal (6)

Kebetulan aku teringat akan suatu peristiwa di Bandung sewaktu aku masih duduk di SMA. Itulah sebabnya mengapa si Pelajar Ideal masih tetap keluyuran di halaman Multiply. Apalagi ada permintaan tertulis dari aranolein. Siapa yang berani nolak?

Waktu itu setiap bulan yang berakhiran dengan “ber”, di Bandung musti hujan. Kalo sempat kehujanan, selain basah kuyup, badan juga bakal kedinginan. Kaga hujan aja sudah dingin banget.

Nah, karena baru tanggal 1 September, teman saya si K. yang berbadan kecil tapi kaya (aku tidak bilang “yang kaya, tapi berbadan kecil”, lho) lupa membawa jas hujannya yang mahal. Karena kejatuhan hujan tanpa pelindung, tak mengherankan bila esoknya dia masuk sekolah dengan bersin-bersin, menghamburkan virus kemana-mana. Meski kami sarankan agar dia cepat berobat, namun keesokan harinya dia tetap masuk, kali ini dengan ingus yang naik turun dari lubang hidungnya!

Bisa dibayangkan kan?

Meliahat keadaan kesehatan K. bertambah parah, kontan si S. sahabat saya bertanya: “Lu kemarin kaga berobat?”

Sambil menghisap ingusnya yang tanpa malu-malu mau keluar lagi, dia jawab: “Yah! Percumah saja! Dokter-dokter di sekitar sini payah-payah! Semuanya cuman dokter umum! Kalo aku kan biasa berobat sama dokter spesialis?”

Meski kesal dengar keangkuhannya, sambil menunjuk ke rumah di depan sekolah, dengan sabar aku berkata: “Lu gimana sih? Lu apa kaga baca papan praktek dokter itu? Kan dia dokter spesialis. Untuk segala macam penyakit lagi! Makanya, lu jangan cuma bisa bahasa Indonesia melulu! Banyak duit kok kaga belajar bahasa Belanda?”

“Siapa bilang aku kaga ngerti bahasa Belanda?”, jawabnya dengan nada yang semakin congkak. “Meski aku tidak dapat ngomong Belanda, tapi di rumah ku di Pariaman, aku terbiasa mendengar ayah ku ngomong Belanda sama ibu ku. Sayang, kemarin aku tidak lihat papan dokter spesialis itu. Entar sore aku berobat ke sana ah! Sekalian minta obat luar negri biar aku cepat sembuh!” tambahnya.

Rupanya si S. sahabat ku penasaran. Ketika kami berdua pulang naik sepeda, dia bertanya: “Emangnya dokter itu spesialis apa sih?”

“Besok aja ku kasi tau. Pasti lu ketawa terbahak-bahak.”

 

Karena keesokan harinya S. mendesak nagih janji saya, terpaksa saya jelaskan spesialis apa dokter itu. Sambil tertawa terbahak-bahak, dia memacu sepedanya karena ingin cepat tau dari K. tentang pengalamannya berobat pada itu spesialis.

Betul saja, begitu kami sampai di sekolah, si K. datang naik beca, dengan lehernya dibalut syaal yang tebal. Ingusnya juga bertambah deras.

S. yang sudah tak bisa menahan diri, kontan bertanya kepada K.: “Jadi kata dokter itu kamu hamil berapa bulan?”

“Sialan lu!” jawab K. dengan ketus. “Aku kaga berobat sama dokter sialan itu!” Langsung dia masuk kelas, dan selama 10 hari dia kaga mau bicara sama kami.

Tau kenapa?

Di papan sang dokter tercantum namanya dengan tulisan di bawahnya yang berbunyi: “Vrouwenarts”. Secara harfiah, vrouwenarts berarti “dokter untuk perempuan”, yang kini sudah diperhalus menjadi “Gynaecoloog”!

5 thoughts on “WP 180 Pelajar Ideal (6)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s