WP 181 Pelajar Ideal (7)

Mungkin di antara para bloggers jarang yang pernah menikmati keindahan kota Bandung antara tahun 1953 – 1956, yaitu semasa saya sekolah di SMA. Menjelang Konperensi Asia – Afrika, wajah kota Bandung dibenahi. Bola lampu penerangan jalan diganti dengan bola lampu halogen yang nyalanya terang luar biasa. Lubang-lubang jalan yang waktu itu tidak terlalu banyak diaspal semuanya. Semua bangunan dan rumah-rumah di tepi jalan harus dicat atau dikapur ulang. Terpaksa saya disuruh ibu saya mengapur rumah kami yang lumayan besarnya. Tentunya hanya bagian luarnya saja. Bukan karena dinding bagian dalam warnanya tidak usang, tapi untuk menghemat duit!

Perubahan kota Bandung yang menjadi nyaman untuk dipandang, ternyata ikut mengubah perilaku para anak muda. Mulailah para pemuda pada sore hari jalan-jalan sepanjang Jl. Braga sambil bergaya seperti di luar negeri. Kalo aku bilang bergaya seperti di luar negri ya memang demikian. Bayangin saja! Di udara yang dingin sampai menusuk ke sumsum tulang kemudian jalan-jalan sambil mengenakan jas, apa bukan kaya di luar negri?

Mula-mula saya tak tergiming untuk meniru trend baru itu! Gimana mau niru? Duit untuk bikin jas aja kaga punya!

Namun iman aku mulai tergoyah ketika S. sahabat saya ngajak saya ke tukang jahit di Jl. Braga. Tempatnya di bangunan pertama di sebelah kanan jalan, bila kita melintasi rel kereta api dari arah utara. Gedung utamanya digunakan oleh toko buku “Van Dorp”, sedang si tukang jahit menempati ruangan kecil di utaranya. Biar pun tempatnya kecil, langganannya rame selalu, karena selain kwalitas jahitannya prima, ongkosnya tidak setinggi penjahit-penjahit lainnya.

Nah, kesanalah S. mengajak saya. Bukan untuk membikinin jas buat saya, tapi membuat jas buat dirinya sendiri. Walaupun S. seorang anak yatim piatu, namun isi kantongnya selalu terjamin oleh satu-satunya kakak perempuan yang bersuamikan pilot AURI dan tantenya yang hidup sendiri. Mereka berempat tinggal serumah, tak jauh dari rumah saya.

Meski S. dari segi materi jauh lebih terjamin daripada saya, namun sifat kikirnya juga tidak kalah banyak. Namun bagi saya itu tak jadi masalah, karena saya tidak termasuk jenis manusia yang suka minta belas kasihan orang lain.

Setibanya di tempat tukang jahit, S. memilih kain wol tipis yang menurut saya waktu itu harganya cukup fantastis. Mulailah ukuran badannya diambil. Setelah itu si tukang jahit menawarkan kain “voering” (pelapis) mana yang mau dipilih.

Selesai itu, sang tukang jahit minta agar S. seminggu kemudian kembali lagi untuk nge”pas” jasnya.

Sepuluh hari kemudian selesailah itu jas. Sejak itu, kalau pada sore hari kami ke Braga, S. mengenakan jasnya sedang saya berjalan di sebelahnya mengenakan pakaian sehari-hari. Tak ubah bagaikan dalam cerita tentang sang pangeran dan sang pengemis.

Mulailah tersirat di benak saya untuk juga ikut membuat jas! Tapi duitnya dari mana? Setelah dihitung-hitung, mungkin kalau saya menyisihkan uang jajan selama 3 bulan, saya juga dapat membuat jas, meski tidak dari kwalitas yang teramat baik.

Oleh karena itu selama 3 bulan, setiap jam istirahat saya memisahkan diri dari kawan-kawan untuk menyantap roti panggang yang ku bawa dari rumah. Bukan kenapa-napa, tapi agar tidak terlalu kentara kaga punya duit untuk jajan kue dari penjaja yang biasa mangkal di halaman sekolah pada jam istirahat.

Setelah 3 bulan berlalu, dengan uang yang saya sisihkan mulailah saya berburu cari bahan untuk jas idaman saya. Agar dapat yang harganya miring, aku pergi ke toko “De Zon” (matahari) yang terletak di jalan yang sekarang bernama Jl. Asia – Afrika. Meski aku mencari selama satu jam, tidak juga saya dapatkan bahan yang sesuai dengan budget saya.

Jadi ku genjot sepeda saya ke Jl. Pasar Baru, yang letaknya tak jauh dari Jl. Asia – Afrika. Nah, di sebuah toko yang kecil dan nyempil, ku dapati juga bahan yang sepadan dengan uang yang ku punya. Warna kainnya abu-abu muda rada kebiru-biruan. Tapi yang jelas bukan dari bahan wol luar negri.

Bergegaslah saya ke tukang jahit di Jl. Braga. Setelah ukuran badan saya diambil, sang tukang jahit berkata: “Minggu depan sudah bisa diambil.”

“Jadi kapan saya nge-pas”nya?” tanya ku terheran-heran. “Ah, kalo bahan seperti ini mah, ga kudu dipas.” jawab si tukang jahit dengan nada sinis.

Kepingin sekali saya nimpuk kepalanya dengan batu besar. Tapi emosi saya terpaksa ku redam. Soalnya di mana lagi saya dapat menjahit jas dengan murah?

Setelah jas itu jadi, aku ikut-ikutan bergaya di Jl. Braga kaya pemuda-pemuda lainnya. Tapi jas itu selalu ku kancing rapat-rapat. Soalnya bila tidak, akan tampak bagian dalamnya yang tidak dilapisi voering! Namanya juga bahan murahan!

Demikianlah kisah seorang pelajar ideal yang mau ikut-ikutan mode terkini, padahal kaga punya duit!

10 thoughts on “WP 181 Pelajar Ideal (7)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s