WP 182 Untuk Direnungkan

Sepasang suami dan istri petani pulang ke rumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan dengan seksama sambil menggumam: “hmmm … makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar?”

Ternyata salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah perangkap tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang.


Ia segera berlari menuju kandang ayam dan berteriak: “Ada perangkap tikus di rumah …. di rumah sekarang ada perangkap tikus…!”


Sang ayam berkata: ” Tuan Tikus…, Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku”

Sang tikus lalu pergi menemui sang kambing sambil berteriak: “Tuan Kambing! Di rumah ada perangkap tikus!”


Sang kambing pun berkata ” Aku turut ber simpati … tapi tidak ada yang bisa aku lakukan”.

Tikus lalu menemui sang sapi. Ia mendapat jawaban sama. “Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali”


Karena kecewa, tikus lalu lari ke hutan dan bertemu ular. Kepada sang ular dia ceriterakan kekhawatirannya. Namun sang ular berkata: ” Ahhh … Perangkap tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku”


Akhirnya sang tikus kembali ke rumah dengan pasrah mengetahui bahwa ia harus menghadapi bahaya itu sendiri.
Pada suatu malam pemilik rumah terbangun mendengar suara keras, pertanda perangkap tikusnya telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata yang tertangkap adalah seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri berada dalam keadaan gawat.

Sang suami terpaksa harus membawa istrinya ke rumah sakit dan meski keadaannya belum stabil, karena biaya perawatannya tinggi, istrinya dibawanya pulang.

Namun beberapa hari kemudian istrinya malah demam.
Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya, agar dia bisa cepat sembuih. Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.

Namun penyakit istrinya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk diberikan hati kambing. Terpaksa sang petani menyembelih kambingnya untuk dimasak hatinya.

Tetapi istrinya tidak sembuh-sembuh juga dan akhirnya meninggal dunia.

Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman, sehingga sang petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan pada orang-orang yang melayat.

Dari kejauhan sang tikus menatap dengan penuh kesedihan.


Beberapa hari kemudian ia melihat perangkap tikus tersebut sudah dibuang.

Moral of the story:

BILA PADA SUATU HARI ANDA MENDENGAR SESEORANG DALAM KESULITAN DAN MENGIRA ITU BUKAN URUSAN ANDA …
BERPIKIRLAH SEKALI LAGI.

2 thoughts on “WP 182 Untuk Direnungkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s