WP 183 Dikerjain sama dokter residen

Kejadiannya akhir taun 1961, ketika saya ngehadapi ujian-ujian buat bisa naek dari tingkat 4 ke tingkat 5 di FKUI. Jaman itu belon ada istilah semester. Pokoknya mahasiswa FKUI dibagi mulai tingkat 1 sampe tingkat 6. Gitu lulus dari tingkat 6, baru sah jadi dokter.
Ketika itu saya dan kelompok kecil saya lagi ujian Ilmu Penyakit Dalam. Ujiannya berupa pasien yang kudu kami diagnosa penyakitnya, saran pengobatannya dan penentuan prognosanya. Waktu itu cukup dengan pemeriksaan fisik dan laboratorium doang. Karena pemeriksaan laboratorium cukup memakan waktu dan rada ribet, maka diem-diem kami sepakat bahwa yang melakukannya seorang partner kami. Untuk dapatkan partner gak bisa milih, tapi diundi.
Kebetulan saya dapat partner berinisial M.D. yang cukup genit, tapi slebornya luar biasa. Tapi bagi saya tak masalah, karena waktu cukup sekali, yaitu dari pukul 08:00 sampe pukul 12:00.
Yang bagi-bagiin pasien biasanya seorang dokter residen, yaitu dokter yang sedang ambil spesialisasi. Nah waktu itu yang bagiin pasien adalah Dr. N.A. yang sekarang udah jadi profesor.
Tepat pukul 08:00 saya peroleh pasien yang segera saya periksa. Kasusnya cukup menarik, karena pasien tersebut menderita gangguan jantung karena kelainan katup jantung. Pukul 10:00 saya hampir selesai membuat laporannya, ketika Dr. N.A. datang lagi dan berkata: “Sorry Gon, pasien ini harus pulang karena ditunggu keluarganya!” “Lha buat ujian gimana dong?” tanya saya terbengong-bengong. “Nanti dapat yang baru!”, jawabnya enteng.
Betul aja, setengah jam kemudian dia bawa pasien baru untuk bahan ujian saya. Keluhannya se-abreg-abreg, tapi secara fisik saya gak bisa nemuin kelaenan apa-apa.
Pas lagi menulis diagnosanya, sang penguji datang. Terka siapa? Tidak laen dan tidak bukan tapi Dr. Oetojo Soekaton, penguji yang sangat ditakuti para mahasiswa karena dianggap sebagai “killer”. Jarang ada mahasiswa yang lulus kalo diuji beliau.
“Mana statusnya (maksudnya laporan pemeriksaannya)?” tanyanya dengan nada garang. “Maaf dok, belum selesai, soalnya saya baru dapat pasiennya pukul setengah sebelas!” jawab ku dengan mengharapkan belas kasihan. “Aku tak perduli,” jawabnya, “Sekarang sudah pukul 12 dan kamu sudah harus selesai!”
Jadi terpaksa saya serahkan status yang belon selesai dengan jelaskan keluhan-keluhannya, hasil pemeriksaan yang tidak menunjukkan kelaian fisik, serta diagnosa psikosomatik.
Setelah ikut memeriksa pasien, bertanya: “Differential count dihitung dalam apa?” tanyanya masih dengan nada garang. “Dalam prosen” jawab saya. Langsung dia lempar statusnya ke saya sambil berkata: “Coba hitung!” Setelah saya hitung, dengan nada mineur saya jawab: “Seratus satu!” Dalam hati aku caci-maki si M.D. yang kerjanya ceroboh. Tapi ya gimana, aku gak ada waktu untuk cek ulang.
Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berdiri dan langsung pergi. Mampus deh aku. Pasti kagak bakal lulus.
Tapi suatu keajaiban terjadi. Ternyata saya termasuk yang bisa lulus naek ke tingkat 5.
Kenapa waktu itu Dr. N.A. ngerjain saya? Jawabannya datang secara tidak terduga. Sekitar pertengahan taun 1960an, dia datang ke tempat saya tinggal, untuk minta maaf karena mau menunaikan ibadah haji.
Aku berlagak pilon: “Lho apa salah lu kok minta maap pada gua?” “Dulu saya ngerjain kamu supaya gak lulus”, jawabnya merendah.
“Oh, itu?” jawab ku sambil ketawa. “Ngomong-ngomong, kenapa sih lu ngerjain saya?” tanya ku penasaran. “Soalnya dulu aku naksir cewe kamu si N.T.”
Meledaklah ketawa saya, “N….., N……., kalo lu dulu minta baek-baek pasti gue kasi! Aku tinggal cari yang laen. (BTW kalo dulu dia minta gak aku kasi juga, soalnya si N.T. banyak yang pinginin. Aku putus dari dia, karena nyokapnya gak suka sama orang Jawa, yang menurutnya punya mental kuli).
“Tapi gak apalah”, jawab ku. “Aku maapin, semoga kamu jadi haji yang mabrur!”
“Terima kasih Gon”, katanya sambil permisi pulang.
Sekitar taun 1990 Dr. Oetojo Soekaton yang waktu itu udah jadi professor datang ke Balikpanan untuk ngikutin seminar tentang kesehatan. Karena waktu itu saya jadi bos kesehatan pada perusahaan di sono, aku jamu beliau makan-makan. Jadi secara seloroh aku bilang bahwa dulu beliau dianggap “killer” oleh para mahasiswa. Dengan ketawa, beliau jawab: “Masa sih?”
Aku ceritain peristiwa waktu saya ujian dulu tanpa nyebutin kenapa Dr. N.A. melakukannya.“Tapi anda bisa lulus jadi dokter kan?” tanyanya dengan senyum. “Betul sekali, tapi aku sempet sport jantung juga”. Memang sang professor tampangya garang, tapi hatinya baek sekali.

2 thoughts on “WP 183 Dikerjain sama dokter residen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s