WP 184 Dikerjain sesama mahasiswa

Masih soal dikerjain. Waktu itu masih juga taun 1961 ketika aku ditugaskan presentasi letak sungsang di Bagian Kebidanan. Jadi sebelon aku dikerjain sama sang dokter residen di Bagian Penyakit Dalam.
Sebelon ujian akhir taun, setiap mahasiswa FKUI diberi kesempatan untuk mempresentasikan suatu kasus selama bertugas di bagian tertentu. Agar pembahasan jadi bermutu, setiap presentan dihadapkan pada 3 orang oponen, yang ditugaskan untuk meluruskan kesalahan-kesalahan sang presentan.
Waktu itu saya memilih mempresentasikan penanganan persalinan dengan letak sungsang, sesuai dengan apa yang saya saksikan dilakukan seorang dokter residen beberapa hari sebelonnya. Dalam presentasi itu saya singgung hal-hal apa yang seharusnya dilakukan sang dokter residen tapi sayangnya tidak dilakukannya. Tanpa nyebut nama sang dokter residen tentunya. Masih untung bayi dan ibunya selamat.
Entah kenapa, Sbt, seorang rekan mahasiswa yang bukan oponen saya, mendadak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang jelas-jelas mau menyudutkan saya. Karena materinya saya kuasai betul, dengan mudah dapat saya tangkis pertanyaan-pertanyaannya. Hasilnya? Saya dapat angka 9. Maksimumnya sih 10, tapi biasanya paling pol seseorang dapat nilai 7.
Jadi niat buat jatuhkan saya, ternyata meleset. Malah memberi keuntungan buat saya. He he he!
Bulan berikutnya kelompok kami pindah ke Bagian Penyakit Dalam. Kebetulan pas Sbt jadi presentan, saya ditunjuk sebagai oponennya.
Kebetulan yang dibahas pasien dengan penyakit jantung. Kebetulan lagi dokter yang mengujinya adalah Dr. E. yang punya sikap acuh tak acuh. Begitu selesai presentasi, Dr. E. yang setelah itu ikut juga memeriksa pasiennya berkata: “Sudah jelas kan? Jadi gak perlu dibahas lagi kan?” Mungkin waktu itu dia lagi kebelet ingin mengerjakan hal yang laen.
Saya langsung berdiri dan berkata: “Maaf dok, sebagai oponen, menurut saya diagnosanya adalah ini, dan bukan itu”, sambil menyebutkan diagnosa yang saya tegakkan dan diagnosa yang disebutkan oleh Sbt.
Kembali Dr. E. mengambil stetoskopnya dan memeriksa kembali sang pasien. Sambil nunjuk ke saya, dia berkata: “Je hebt gelijk zeg!” (Yang kalo diterjemahkan bebas, artinya: “Wah, kamu betul tuh!”).
Langsung dia kasi angka 5 pada sang presentan. Sebetulnya bukan niat saya untuk menjatuhkan Sbt, tapi kewajiban saya adalah meluruskan diagnosa yang salah. Kan kalo diagnosanya salah, mana bisa pengobatannya betul? Kasian pasiennya kan?
Padahal, kalo Sbt nanya pada saya waktu sehari sebelonnya dia liat saya periksa itu pasien, pasti saya kasitau. Eh, waktu itu dia malah buang muka. Nyalamin saya aja kagak. Mungkin dia dengki bahwa upaya dia menjatuhkan saya waktu di Bagian Kebidanan malah meningkatkan nilai saya. Sampe sekarang aku masih gak tau kenapa dia dengki pada saya. Apa karena dia perhatikan bahwa saya selalu dapat nilai yang lumayan? Entahlah!
Coba dia baek-baek pada saya! Pasti dia bisa juga dapat nilai yang top. Makanya, mendingan baek-baek sama saya. Iya kan? He he he!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s