WP 185 Dikerjain dosen di luar negri

Ini masih cerita tentang bagaimana saya dikerjain. Kali ini di luar negri, ketika saya ditugaskan untuk meraih diploma dalam environmental engineering di Asian Institute of Technology (AIT) di Bangkok, Thailand. Sebetulnya sih tidak di Bangkok amat. Soalnya letaknya masih jauh di utara bandara Don Muang.
Kebetulan ada dua kawan seperusahaan yang juga dikirim. Tapi dua-duanya engineer. Ternyata saya satu-satunya dokter yang dikirim dan diterima sekolah di sono. Untuk bisa diterima di sono seleksinya sangat ketat. Dari 7 calon yang dikirim perusahaan di mana saya bekerja, hanya kami bertiga yang diterima. Entah kenapa kok bos-bos saya terpikir untuk mengirim saya ke sono. Mungkin karena mereka tau bahwa saya suka ngutak-ngatik peralatan elektronik di rumah sakit.
Sekolahnya sih 9 bulan, tapi sebelon 9 bulan kami harus menjalani ujian akhir. Sisanya satu bulan disediakan bila ada yang harus mengulang karena belon bisa lulus ujian akhir. Ujian saya meliputi penelitian saya tentang pengaruh fatal timah hitam terhadap ikan mujair. Sengaja saya pilih topik itu, karena ikan mujair merupakan sumber protein yang murah, sedangkan di Thailand masih ada saja perusahaan yang secara ilegal membuang limbahnya ke perairan umum. Di samping itu semua peralatan yang diperlukan tersedia di AIT. Jadi gak usah buang biaya transportasi untuk menuju ke laboratorium lain. Meski di AIT bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris, tapi biasanya di laboratorium lain, seseorang akan mengalami kesulitan untuk berkomunikasi kalo gak nguasai bahasa Thai.
Yang ditunjuk jadi pembimbing saya adalah Prof. Pescod, yang juga menjadi Kepala Divisi Environmental Engineering di AIT. Beliau merupakan pengajar yang baik. Topik dan metoda penelitian yang saya ajukan, setelah disempurnakan, langsung disetujuinya. Juga dalam progress report saya tidak mengalami kesulitan.
Oleh karena itulah saya berniat untuk pulang sehari setelah menempuh ujian. Maklum, anak saya yang kedua lahir waktu saya lagi tugas belajar.
Beberapa hari sebelon ujian, salah satu rekan saya mengusulkan untuk mengajak makan Ms Samorn, seorang staf pengajar asli Muangthai, bersama suaminya di sebuah restoran termahal di Bangkok. Saya sih tak melihat kepentingannya. Tapi demi kesetiakawanan, kami bertiga urunan. Padahal saya lebih suka mengajak makan Naythun, seorang staf pengajar yang menurut saya paling top dan bahasa Inggrisnya bagus dan jelas. Lain dengan Ms Samorn, yang bahasa Inggrisnya lebih mirip bahasa Muangthai. Sebagai contoh, berkali-kali dia sebut “kolain”, baru setelah dia tuliskan “Cl”, saya tau bahwa yang dimaksud adalah “chlorine”.
Nah pas ujian akhir, yang nguji saya ada 3 orang, yaitu Prof. Pescod, Mr. Naythun dan Ms. Samorn.
Herannya, begitu saya selesai membacakan hasil penelitian saya, entah kenapa, Ms Samorn langsung menyerang saya bertubi-tubi. Dia minta saya untuk mengulang penelitian saya karena menurut dia, calibration curve yang saya buat salah. Yang dibuat asistennya merupakan garis lengkung, sedangkan yang punya saya garis lurus, meski arahnya sama.
Saya sempat heran juga, kenapa saya bisa bikin ketololan seperti itu. Setelah saya teliti, baru saya tau masalahnya. Satuan yang digunakan asisten Ms Samorn adalah miligram per liter, sedangkan saya punya dalam microgram per liter. Jadi dengan senyum saya katakan bahwa kedua calibration curve betul.
“Mana bisa?” tanya Ms Samorn sambil melotot. “Gini,” saya jelaskan, liat tiang listrik di luar itu? Coba tarik garis dari sini ke sana. Garis lurus kan? Tapi coba tarik garis dalam arah berlawanan mengitari bumi. Apa yang kita peroleh? Suatu lingkaran kan? Jadi bagian kecil dari lingkaran atau garis lengkung selalu merupakan garis lurus. Calibration curve saya menggunakan satuan yang besarnya seperseribu satuan yang dibuat asisten anda!”
Mendengar penjelasan saya, dia cuman bisa manyun saja. Apakah permasalahannya selesai? Ternyata belon juga. Dengan berapi-api dia mengatakan bahwa saya tetap harus mengulang percobaan saya, karena metode yang saya pergunakan tidak lazim.
Dengan tenang saya berkata: “Boleh saja. Tapi dengan satu syarat, yaitu ada permintaan maaf dari AIT, atau bila tidak, sebaiknya AIT ditutup saja!”
“Kenapa begitu?” tanyanya berapi-api. “Begini,” jawab saya. “Metode yang saya gunakan ada dalam buku STANDARD METHODS, yang merupakan buku wajib di divisi Environmental Engineering ini. Jadi bila isi buku itu menyesatkan, maka AIT telah menipu kami!”
Terdiamlah si nyonya Samorn. Tapi semangat untuk menyerang saya belon reda juga. Masih banyak pertanyaan yang dibuat-buat tapi dengan mudah dapat saya tangkis.
Setelah dia kehabisan anmunisi, saya minta dia untuk menghapus coretan-coretan yang dia buat di tulisan saya, karena tidak ada yang terbukti salah. Ini sebetulnya merupakan ledekan saya supaya dia jangan macem-macem terhadap saya.
Setelah itu saya bertanya kepada penguji laennya apa ada pertanyaan laen. “Tidak ada, sudah cukup”, jawab mereka.
Rupanya perdebatan itu memakan waktu 3 jam lebih. Begitu selesai. Prof. Pescod di hadapan kawan-kawan seperguruan saya yang nunggu di luar, bertanya kapan rencana saya untuk pulang. Saya jawab bahwa saya sudah booking pesawat buat besok pagi. “So soon?” tanyanya, “ why don’t you all have dinner at my place tonight?“ ajaknya. Buat kami sih sungguh menyenangkan.
Pada malam harinya, salah seorang kawan dari Inggris bertanya pada Prof Pescod, kenapa ujian tadi sampai 3 jam lamanya. Padahal dulu-dulu biasanya paling lama cuman satu jam.
Dengan senyum, sambil nunjuk ke saya, Prof Pescod menjawab: “Soalnya bukan kami yang nguji dia, tapi dia yang nguji kami. Memang kadang-kadang ada yang coba mempermalukan seorang pembimbing dengan cara menjatuhkan student yang dibimbingnya!”
Jadi saya tetap pulang dengan pesan, seandainya saya lulus, ijazahnya dikirim ke alamat perusahaan tempat saya kerja. Pokoknya “que sera, sera” aja.
Mau tau hasilnya? Ternyata lulus juga. Malah nilai-nilai yang saya peroleh merupakan ranking tertinggi di antara kami bertiga. Padahal pada awalnya, seorang direktur perusahaan kami yang datang di Bangkok berpesan agar insinyur yang muda memperoleh nilai tertinggi, yang tua, berikutnya, sedang sambil melirik ke saya dia berkata: “Kalau dokter sih, nilai terendah juga tidak apa-apa!” rupanya urutannya malah terbalik.

2 thoughts on “WP 185 Dikerjain dosen di luar negri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s