WP 186 Dikerjain dosen pembimbing di luar negri

Kejadian ini pada akhir taun 1978 ketika saya mengerjakan final paper yang merupakan salah satu persyaratan untuk dapat meraih gelar MSc dalam Occupational Hygiene di London School of Hygiene and Tropical Medicine. Sekolahnya persis satu taun, mulai akhir taun 1997 sampe akhir taun 1978.
Pada awalnya aku dikirim untuk dapat meraih MSc dalam Occupational Health. Tapi begitu datang dan mendaftarkan diri, saya diberitau bahwa ada telex dari perusahaan tempat saya bekerja, bahwa saya dipindahkan ke Occupational Hygiene yang lebih memperdalam masalah teknis, daripada masalah kesehatan. Alasannya sih gak disebutkan. Pokoknya seperti orang Jerman bilang: “Befehl ist befehl” atawa “Perintah adalah perintah!” Jadi masa aku mau terus hengkang pulang sih? Malu-maluin dong. Masa baru ngehadapin masalah gituan aja terus nyerah.
Seperti halnya di AIT, maka saya adalah satu-satunya dokter yang mengambil jurusan itu. Terpaksalah saya bekerja keras untuk bisa mengerti apa yang dikuliahkan.
Nah, untuk dapat meraih gelar MSc, kami diwajibkan mengadakan penelitian tentang masalah lingkungan yang membahayakan kesehatan para pekerja.
Kebetulan saya sempat kenalan sama Mr. Albert Hill, seorang occupational hygienist di British PTT. Kenalnya di cooking club di London. Atas saran dia, saya diminta menyelidiki pemaparan pekerja pencetak blue print terhadap amonia yang dipergunakan dalam proses kerjanya. Ini merupakan suatu mutual benefit atawa keuntungan bersama bagi PTT dan bagi saya. PTT akan dapat data tentang pemaparan para pekerja percetakan blue print, buat saya ada bahan untuk diteliti.
Kebetulan yang ditunjuk sebagai pembimbing saya adalah Mr. Crockford, seorang dosen yang nyebelin. Kenapa nyebelin? Dari sikapnya, tampak bahwa dia kagak gitu senang sama orang-orang Asia. Padahal justru orang Asia yang paling banyak menyumbang itu sekolah dalam bentuk tuition fee.
Untuk mendapat persetujuan tentang materi yang akan saya selidiki, susahnya bukan maen. Setiap kali menghadap, ada saja hal yang kudu saya ubah. Tapi akhirnya goal juga.
Waktu itu pas bulan Ramadhan. Bisa dibayangkan kan gimana bulan Ramadhan di pertengahan summer? Imsak sekitar pukul 03:00 dan magrib sekitar pukul 21:00. Mana panasnya bukan maen!
Meskipun demikian dengan mengangkut alat pemeriksaan kadar amonia yang beratnya sekitar 20 kg, saya datangi kantor pos demi kantor pos, di mana blue print dicetak. Supaya bisa akrab dengan pegawainya, tiap hari aku ajak mereka lunch di luar. Saya sih cuman nonton aja. Soalnya kan puasa.
Begitu hampir selesai dengan paper saya, saya hubungi pembimbing saya. Karena pas musim panas, maka dia ambil cuti sehingga saya disuruh datang ke rumahnya yang berada di kota kecil di luar London. Saya sih manut saja. Nah dia yang lagi kuasa! Mau diapain?
Mula-mula dia minta saya nambah beberapa penelitian. Begitu selesai, dia minta saya mengubah format dan susunan pembahasan dengan menambah beberapa hal lagi. Bayangkan, semua harus saya kerjakan dengan mesin ketik. Jaman itu mana ada personal computer? Jadi setiap ada perubahan, berarti saya harus ketik ulang seluruhnya. Bisa dibayangkan kan mengetik sekitar 50 halaman dengan mesin ketik?.
Begitu selesai, aku datang lagi ke rumahnya. Sambil membaca, dia manggut-manggut. Tapi jangan senang dulu. Soalnya buntut-buntutnya dia bilang: “Materinya sudah lengkap, tapi saya rasa, susunan penulisannya lebih bagus yang dulu!”
Mampus saya! Berarti saya kudu ngetik ulang lagi! Timbullah pemberontakan dalam benak saya. Dengan bantuan mistar, cutter dan glue stick, saya lakukan cut and paste terhadap karya saya. Hasilnya tinggal saya fotocopy saja. Hasilnya? Rapi jali, persis kayak fotocopy ketikan ulang.
Begitu aku menghadap dia lagi di rumahnya, dia berkata:m “Ini sudah bagus! Tolong kasi saya aslinya!” Dalam hati, saya berpikir: “Aslinya sih berupa tempelan-tempelan doang!” Tapi dengan tenang aku jawab: “Saya tidak pernah baca adanya ketentuan bahwa saya harus menyerahkan aslinya ke sekolah!”
“Betul, tapi itu sudah kebiasaannya” jawab dia kagak mau ngalah.
Sambil menunjukkan Surat Perintah dari Perusahaan, saya berkata: “Bagaimana saya bisa serahkan aslinya kepada sekolah, bila perusahaan yang membiayai saya ke sini juga minta aslinya?” Karena si bule kagak ngerti bahasa Indonesia, terpaksa dia percaya apa yang saya katakan.
Liat dia bakal nyerah, timbul niat saya untuk bikin KO dia. “Kalo memperbaiki materi dalam tulisan saya, saya bisa mengerti. Tapi kenapa saya harus mengubah-ngubah susunan penulisan saya?” tanya aku kepadanya.
“Gini,” katanya sok bijak, “nanti mungkin anda akan menghadapi atasan yang tidak mudah, jadi ini sekedar latihan saja!”
“Sekedar latihan saja?” tanya ku dengan nada rada tinggi. “Jadi anda melakukan psikotest terhadap saya? Apa perlu saya cek ke dekan apa seorang pembimbing juga diwajibkan melakukan psikotest?”
Mulai dia tampak pucat. “Oh, jangan, jangan. Itu cuma ide saya saja. Aku minta maaf kalau itu menyusahkan anda!”
Kalo dalam catur itu udah pertanda check-mate!
Jadi aku bilang: “OK, tak masalah. Aku cuman ingin tau saja. Sekalian permisi, karena lusa saya harus pulang ke Indonesia.”
“Jadi tidak menunggu pengumumannya?” tanyanya.
“Sayang sekali tidak, karena saya sudah dipanggil pulang oleh atasan saya” kata saya berbohong lagi. “Nanti hasilnya dikirim saja!” Ternyata memang saya lulus juga.
Selesailah kisah-kisah tentang gimana saya dikerjain orang dan cara saya ngerjain balik. Semoga gak bosen ngebacanya.

2 thoughts on “WP 186 Dikerjain dosen pembimbing di luar negri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s